pensiljurnalis.my.id, Seluma – Krisis pasokan listrik yang lemah dan tidak stabil di Kabupaten Seluma kian meresahkan. Tak hanya melumpuhkan sektor usaha mikro, penurunan tegangan (drop voltage) ekstrem ini juga merusak peralatan elektronik dan mematikan fasilitas sanitasi warga hingga ke pelosok desa.
Kondisi kritis ini dirasakan langsung oleh warga Gang SDN 92 Seluma, RT 04/RW 02, Kelurahan Selebar, Kecamatan Seluma Timur. Keluhan arus tidak stabil ini sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa bulan terakhir, dan puncaknya terjadi hari ini, Senin (28/9/2026).
Berdasarkan pengecekan bersama pada instrumen kWh meter digital di lebih dari lima rumah malam ini sekitar pukul 19.15 WIB, tegangan listrik terpantau drop parah mulai dari 160,09 Volt, 158,09 Volt, 148,01 Volt, hingga titik terendah 139,09 Volt. Angka ini berada jauh di bawah standar aman PLN sebesar 220 Volt.Titik terendah tegangan 139,09 Volt tersebut ditemukan di kWh meter milik Yoyon.
Menurut keterangannya, akibat pasokan daya yang terlalu rendah ini, mesin pompa air di rumahnya sama sekali tidak mampu menarik air untuk kebutuhan sanitasi sehari-hari.
Akibat lainnya, barang elektronik warga mengalami kerusakan fatal, termasuk alat penyetabil (stabilizer) di ruang kerja Owner media pensiljurnalis yang mengakibatkan operasional komputer desainer dan programmer website lumpuh total.
Ironisnya, meski krisis ini sudah berbulan-bulan dirasakan, upaya koordinasi yang pernah disampaikan kepada petugas PLN di lapangan seolah diabaikan karena hingga kini belum ada tindakan perbaikan.
Di sisi lain, potret krisis kelistrikan yang jauh lebih kronis ternyata juga ditemukan di luar wilayah Kecamatan Seluma Timur. Di Desa Nanti Agung, Kecamatan Ilir Talo, masyarakat setempat mengaku sudah menderita akibat pasokan listrik lemah ini sejak puluhan tahun lalu.
Masalah menahun ini turut ditegaskan oleh Hendri (Fardo). Sebagai putra daerah asli kelahiran desa tersebut, ia menyatakan bahwa dirinya merasakan langsung penderitaan warga Ilir Talo yang hak-haknya seolah ditelantarkan oleh penyedia layanan listrik.
“Saya ini berasal dari Desa Nanti Agung, jadi tahu betul bagaimana kondisi di sana. Penderitaan akibat listrik lemah dan kerap mati ini bahkan sudah dialami warga Desa Nanti Agung, Kecamatan Ilir Talo secara menahun lintas generasi tanpa pernah ada solusi konkret,” tegas Hendri.
Mewakili kerugian masyarakat, Hendri (Fardo) selaku Owner media pensiljurnalis mendesak Bupati Seluma untuk segera turun tangan memanggil pihak manajemen PLN ULP Tais.
“Data kWh meter malam ini sudah berbicara, tegangan drop sampai 139 Volt di jam sibuk, seperti di rumah Pak Yoyon sampai mesin airnya tidak bisa narik. Masalah ini sudah terjadi berbulan-bulan dan puncaknya malam ini. Usaha kecil warga terhenti dan elektronik hancur,” tegas Hendri.
Secara hukum, pembiaran krisis daya ini dinilai telah melanggar Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang menjamin hak konsumen atas kenyamanan, keamanan, keselamatan, serta hak mendapatkan kompensasi atau ganti rugi atas pelayanan yang tidak sesuai standar.
“Kami meminta Bupati hadir sebagai pelindung rakyat. Segera panggil dan tekan manajemen PLN untuk melakukan perbaikan total jaringan transmisi serta menambah kapasitas trafo. Hak kami sebagai masyarakat yang taat bayar tagihan jangan terus diabaikan,” pungkasnya
Warga menegaskan, apabila dalam waktu dekat tidak ada tanggapan dan perbaikan nyata di lapangan, bukan tidak mungkin masyarakat bersama perwakilan media akan melayangkan surat laporan resmi ke Ombudsman Republik Indonesia, Badan Perlindungan Konsumen, serta instansi terkait lainnya atas dugaan maladministrasi pelayanan publik.
Pewarta       : Redaksi/Renaldi
Editor         : Do





