Seluma – Ambruknya dinding saluran irigasi D.I Seluma saat ini menjadi kontroversi tersendiri, pasalnya Mega proyek dengan Dana yang cukup Fantastis itu baru beberapa bulan PHO sudah ambruk.
Seperti dilansir dari Media Online JURNALIS BENGKULU.COM pihak Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Irigasi dan Rawa III Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Bengkulu Dijelaskan PPK IRWA III, Fitriadi, ambruknya dinding saluran irigasi tersebut ada 3 penyebabnya yakni :
1. Pada tanggal 18-19 Oktober 2021 terjadi intensitas hujan yang tinggi.
2. Terjadinya pergerakan tanah yang ada di sekitar bangunan menyebabkan kerusakan pada bangunan sepanjang 18 m.
3. Ditemukannya beberapa titik mata air di atas sehingga membuat tekanan pada bangunan saluran.
Namun 3 alasan yang diberikan oleh Fitriadi PPK BWS VII itu ditentang oleh Firasuki. Ketua LSM Mata Rakyat itu mengatakan kalau alasan tersebut diatas hanya pembelaan klasik semata. dan pernyataan PPK itu dianggapnya cuman untuk menutupi bobroknya PPK yang tidak cakap dalam mengawasi proyek tersebut. Senin ( 25/10/2021 ).
” Kalau alasan tersebut, Jangankan mereka yang memang terdidik, anak kecil yang bermain melakukan kesalahan juga bisa membuat alasan seperti yang Dia sampaikan. itulah kata-kata PPK yang tidak profesional, yang tidak mau disalahkan. lucu saja bangunan khusus untuk air takut air, alasannya tidak masuk akal.” Tegas Tokoh masyarakat yang sedari awal pembangunan sudah mengkritisi pekerjaan proyek tersebut.
Lanjutnya, Firasuki mengingatkan sedari awal sampai dengan progres kerja proyek itu sampai progres 60 % mereka sudah mengkritik bahkan sudah menyurati pihak BWS VII atas buruknya mutu beton dan beberapa konstruksi kerja yang tidak memadai, serta kinerja kontraktor yang kurang kompeten tetapi mereka tidak ada tanggapan.
” Kalau alasannya karena hujan dan air. berarti perencanaan mereka tidak matang, karena bangunan jaman duluh masih Koko hingga sekarang, hanya saja sudah lapuk dimakan waktu. Sebenarnya apa yang kami takutkan sebelumnya sudah kami layangkan teguran. tetapi pihak BWS VII seolah-olah Buta dan Tuli.” Tandasnya.
Adapun didalam surat Aspirasi teguran perbaikan pada proyek abadi yang mereka kirim itu terdapat 5 poin.
1. Pek. Linning concrete beton pada saluran titik pekerjaan BS 7 tidak menggunakan lantai kerja.
2. Tidak menggunakan penyangga atau decking beton pada pemasangan jaringan besi/tulang.
3. Ketebalan pemasangan beton pelapis saluran pada pekerjaan tersebut bervariasi antara 6-7 cm.
4. Matrial yang terpasang pada pek. jalan inveksi saluran ( pek. pengerasan ) tidak mengikuti mutu setandar yang telah ditentukan
5. Pada pelaksanaan pekerjaan lantai saluran pekerjaan dilaksanakan, kondisi lapangan masih dalam keadaan becek dan berlumpur, tidak menggunakan lantai kerja dan beton penyanggah pada pemasangan tulangan besi.
” Berdasarkan kroscek Saya dilapangan, dengan tidak diterapkannya sesuai dengan spek pekerjaan, tentu itu sudah ada indikasi pengurangan volume pekerjaan, ke 5 point itu jelas berpengaruh pada mutu bangunan, yang mengakibatkan umur konstruksi bangunan tidak tahan lama, jadi itu bukan lagi dianggap ada indikasi, tetapi sudah bisa dipastikan akan merugikan Keuangan Negara.” Tukas Firasuki
Kepada Media Online pensiljurnali.my.id, Beliau juga mengatakan, dalam pekerjaan itu pengawasan pihak balai dianggap tidak ada. seperti ukuran adukan matrial asal-asalan.
” Duluh Saya juga beberapa kali melihat cara mereka bekerja, ketika memasukan matrial ke mesin molen cor, mereka tidak pakai ukuran. Intinya semenjak 2018 hingga sekarang mutu beton nya tidak bagus, dan fungsi mereka selaku PPK patut dipertanyakan.” Tambahnya. ( D0 ).





