pensiljurnalis.my.id, Seluma – Masyarakat Talang Giring, Kecamatan Lubuk Sandi, Kabupaten Seluma, keluhkan kondisi jembatan gantung yang mulai berlobang dan keropos sehingga sudah hampir tidak layak lagi untuk digunakan.
Mirisnya lagi, tidak hanya lantainya saja, Kerangka jembatan gantung dengan panjang 80 meter dan lebar 1,5 meter tersebut sebelumnya memang sudah hancur namun atas inisiatif warga jembatan itu kembali diperbaiki dengan mengganti papan kayu. Sabtu (7/9/2024).
Ketika dikonfirmasi terkait perbaikan dan inisiatif gotong royong memperbaiki jembatan milik Kabupaten itu, salah satu Perangkat Desa, Rici Andoni, membenarkan hal tersebut, dikatakannya atas kesepakatan warga melakukan gotong royong baik segi tenaga maupun dengan melakukan Iuran Rp. 10 ribu per orang maka jembatan itu diperbaiki lagi demi kelancaran akses warga setempat.
“jembatan itu merupakan akses penghubung tercepat bagi warga menuju Desa Padang Capo, dengan jarak tempuh hanya 15 menit dan apalagi kalau mau ke kota Bengkulu lebih cepat. Jika warga keluarnya memutar melalui Desa Padang Pelasan jarak tempuh bisa kurang lebih mencapai 3 Jam,” tuturnya.
Dikisahkannya, jembatan gantung akses penghubung Desa Talang Giring dan Padang Capo itu semenjak dibangun pada tahun 1998 itu, sampai dengan saat ini tahun 2024, belum ada perhatian Pemerintah Daerah.
“hal wajar kalau jembatan tersebut rusak, karena sudah termakan usia. Kalau lantai jembatan, baik warga Talang Giring, maupun warga Padang Capo, ketika rusak selalu gotong royong untuk memperbaiki, tetapi kalau rangkanya rusak dan keropos, kami bisa berbuat apa,” tuturnya.
Sementara itu senada dengan Perangkatnya, Bagus Santoso, Kades Talang Giring, berharap ada penanganan dari Pemda Kabupaten, kalau jembatan gantung itu tak segera diambil tindakan perbaikan, diperkirakan nya nasib pelajar SD, SMP dan SMA serta petani yang hendak mengeluarkan hasil pertanian sama persis yang dialami oleh warga Desa Simpang Kecamatan Seluma Timur, yang berjibaku menyeberangi sungai apabila hendak berpergian keluar desa.
“lagian sangat wajar jika sudah dilakukan perbaikan, karena manfaatnya sangat besar bagi warga sekitar, kalau tidak juga diperbaiki, terpaksa warga dan pelajar menyebrangi sungai yang deras dan berbahaya. Terutama anak sekolah yang sekolahnya diluar desa, tiap harinya melewati jembatan gantung yang sudah rusak parah ini terkadang terjatuh akibat jembatan tersebut sudah banyak kayunya yang bolong-bolong karena sejak dibangun pada tahun 1998 lalu, jembatan tersebut tidak pernah lagi tersentuh pembangunan,”ujarnya.
Bagus Santoso, sangat berharap kepada Pemda provinsi Bengkulu ataupun Pemda Kabupaten Seluma, sekiranya jembatan ini bisa dibangun secara permanen oleh pemerintah.
Jembatan gantung di Desa talang giring bukan hanya sebuah sarana penghubung, tetapi juga tulang punggung perekonomian warga setempat. Dengan adanya jembatan yang layak, warga tidak perlu khawatir lagi saat melintasi sungai, terutama saat membawa hasil panen.
“Pemerintah Kabupaten Seluma dan Provinsi Bengkulu sebenarnya sudah pernah menjanjikan perbaikan, tapi hingga kini belum ada realisasi, Kami juga sangat berharap pemerintah bisa segera membangun jembatan yang permanen, supaya para petani bisa melintas dengan aman dan nyaman menuju lahan produksi mereka,” tandas Kades Talang Giring.
Budaya gotong royong selalu dilakukan oleh warga desa talang giring, hal ini menjadi bukti kuatnya solidaritas dan kebersamaan masyarakat dalam menghadapi masalah.
Namun, mereka juga membutuhkan dukungan dari pihak yang berwenang untuk memastikan keberlanjutan dan keamanan jembatan tersebut.
“Kami sangat berharap pemerintah segera turun tangan dan membantu membangun jembatan ini. Ini bukan hanya demi kenyamanan, tetapi juga demi keselamatan kami semua, serta sebagai bentuk kepedulian pemerintah kepada masyarakat, bukan hanya datang mengharap suara kami ketika pencoblosan Pilkada saja.” sampai salah pengendara yang hendak melintasi jembatan gantung tersebut ketika diwawancarai.
Pewarta : Renaldi/Nanang
Editor : pensiljurnalis





