pensiljurnalis.my.id, Seluma – Pemerintah Desa (Pemdes) Air Melancar, Kecamatan Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, selama 2 tahun dibawah pimpinan Sudarmono, terus berkutat mengajukan permohonan untuk bedah rumah warganya yang termasuk kategori tak layak huni.
Namun sayangnya, menurut Sudarmono, Kepala Desa Air Melancar, program perbaikan rumah tak layak huni di Kabupaten Seluma, masih dianggap hanya menyasar pada desa-desa yang dekat kota atau yang kepala desanya dekat dengan Dinasnya atau setidaknya yang hanya punya komunikasi intens dengan petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) kecamatannya.
“ujungnya banyak warga yang harusnya layak mendapatkan bantuan tersebut luput dari haknya,” tandasnya.
Selama ini menurut informasi yang diterima kepala desa, program bedah rumah rutilahu (rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni) atau bantuan perbaikan rumah banyak disediakan atau menjadi program di sejumlah Dinas di antaranya Dinas Sosial, Dinas PUPR, dan Dinas Pemukiman dan Perumahan.
Tapi nyatanya program itu belum kunjung jua menyasar warga desa Air Melancar, itulah yang menyebabkan puluhan rumah warga yang berhak menerima bantuan bedah rumah terpaksa menunggu dalam waktu yang lama.
“Saya sangat mengharapkan agar kiranya warga saya bisa juga merasakan bantuan dari pemerintah kabupaten Seluma baik berupa rumah ataupun yang lainnya. Memang betul desa kami ini boleh di bilang jauh dari permukiman kota makanya Desa kami mungkin jarang terlihat atau terdengar dari kalangan kota kabupaten Seluma,” ujarnya.
“harapan saya sebagai kepala desa saat ini semoga Pemkab Seluma cepat melihat dan mendengar keluhan, warga desa air melancar, dan saya mohon usulan 15 rumah tidak layak huni di desa Air Melancar dapat diakomodir,” lanjut Sudarmono.
Sementara itu, Mihas, salah satu pemilik rumah yang disusulkan dan layak mendapat bantuan tersebut mengatakan, kalau tempat yang dihuninya bersama sumi dan tiga orang anaknya tak layak disebut rumah dan lebih layak disebut gubuk. Sebab selain kecil, dinding dan atap seng juga sudah penuh dengan tambalan.
Menurutnya, Ia bersama suaminya sudah berusaha dan berupaya ingin membuatkan tempat tinggal yang layak untuk anak-anaknya namun takdir berkata lain, jangankan untuk membangun rumah yang layak untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari pun sulit.
“saya minta tolong kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Seluma, sekiranya memperhatikan kami warga pedalaman, jangan hanya warga dipinggiran jalan dan kota kabupaten saja, kami juga warga Indonesia,” singkatnya.
Hingga saat ini problem yang dihadapi salah satu desa di Kabupaten Seluma ini hanya sekelumit contoh kecil dari potret pelayanan publik di daerah terutama di desa yang belum mendapat perhatian serius.
Pemerintah masih belum memberikan jaminan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ke depan perlu adanya perbaikan pengawasan dan aksi yang nyata bagi perubahan pelayanan publik kita.
Pewarta : Renaldi/Nanang
Editor : pensiljurnalis





