pensiljurnalis.my.id, Seluma – Transisi dari musim kemarau menuju musim penghujan mulai membayangi Kabupaten Seluma. Bagi sebagian besar warga, turunnya hujan menjadi berkah. Namun, bagi ratusan Kepala Keluarga (KK) di puluhan desa rawan, perubahan cuaca ini justru memicu kecemasan mendalam akan ancaman banjir tahunan yang rutin mengintai permukiman mereka.
Situasi dilematis ini membuat kesiapan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seluma mulai disoroti tajam. Publik mempertanyakan apakah instansi tersebut sudah menyiapkan langkah mitigasi pra-bencana yang matang, atau masih mengandalkan pola penanganan reaktif setelah wilayah terlanjur tenggelam.
Bukan tanpa alasan, catatan kebencanaan menunjukkan luapan sungai saat intensitas hujan tinggi kerap merendam hingga puluhan desa secara serentak. Kawasan Talo Raya yang meliputi Kecamatan Talo, Talo Kecil, hingga Ilir Talo menjadi salah satu titik paling kritis akibat luapan Sungai Talo.
Lokasi rawan seperti Desa Napal Melintang, Desa Taba, dan Desa Tebat Sibun secara historis kerap terendam banjir hingga melumpuhkan akses jalan kabupaten, berdampingan dengan wilayah terdampak rutin lainnya di Sukaraja dan Semidang Alas Maras (SAM).
Kritik utama yang mencuat dari lapangan kini berfokus pada rasa jenuh masyarakat terdampak. Warga menilai rapat koordinasi lintas sektor di tingkat kabupaten tidak akan mengubah keadaan jika tidak dibarengi dengan aksi fisik, seperti penyiapan alat deteksi dini dan penyebaran armada evakuasi di titik-titik krusial sebelum air naik.
Kekecewaan mendalam atas lambatnya respons kedaruratan selama ini disuarakan secara lantang oleh salah seorang warga dari salah satu desa rawan di Kecamatan Talo Kecil.
“Kami sudah sangat jenuh setiap tahun hanya didatangi setelah rumah tenggelam. Bantuan logistik baru sampai dua atau tiga hari setelah air surut, saat kami sudah kelaparan. Yang kami butuhkan sekarang adalah pencegahan. Mana perahu karet yang harusnya siaga di desa rawan? Mana sistem peringatan dini yang jelas? Jangan tunggu kami terisolasi baru sibuk menggelar rapat,” cetusnya.
Selain armada evakuasi, transparansi manajemen logistik di gudang darurat BPBD Seluma juga menjadi poin krusial. Pasokan obat-obatan, tenda pengungsian, dan bahan pangan pokok harus dipastikan aman serta dapat didistribusikan dengan cepat tanpa hambatan birokrasi saat status tanggap darurat ditetapkan.
Kini, masyarakat Seluma menanti pembuktian nyata dari pemerintah daerah. Ujian kesiapan tersebut akan segera terlihat begitu hujan deras pertama mengguyur bumi Seluma. Apakah BPBD kali ini mampu memberikan perlindungan optimal, atau warga kembali dipaksa menyelamatkan diri secara mandiri di tengah kepungan banjir.
Pewarta       : Redaksi/Renaldi
Editor         : Do





