BerandaAdat dan BudayaJaga Kelestarian Budaya, Warga Sunda di Seluma Hidupkan Tradisi Saweran Adat dalam...

Jaga Kelestarian Budaya, Warga Sunda di Seluma Hidupkan Tradisi Saweran Adat dalam Pernikahan

pensiljurnalis.my.id, Seluma – Warga keturunan suku Sunda yang menetap di Kabupaten Seluma, Bengkulu, terus berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan leluhur mereka.

Salah satunya dibuktikan melalui pelestarian prosesi Saweran Adat Sunda yang menjadi bagian sakral dalam rangkaian upacara pernikahan tradisional.

Meskipun berada jauh dari tanah kelahiran di Jawa Barat, komunitas warga Sunda di Kabupaten Seluma tetap menjalankan prosesi ini secara turun-temurun sebagai identitas budaya yang tidak boleh luntur oleh zaman.

Prosesi saweran ini dilaksanakan setelah kedua mempelai anak dari pasangan Rustandi dan Siti Maimunah, warga Desa Batuan, Kelurahan Sidomulyo, itu resmi dinyatakan sah sebagai suami istri melalui akad nikah.

Kedua pengantin duduk berdampingan di bawah payung agung, sementara orang tua atau tetua adat bersiap melemparkan bokor berisi materi saweran kepada para tamu undangan dan keluarga yang hadir.

Dok//Istimewa : Gambar Suasana Para Warga Saat Mengikuti Prosesi Saweran Pada Acara Tersebut. (Redaksi/pensiljurnalis).

Bukan sekadar hiburan atau bagi-bagi hadiah, setiap benda yang dilemparkan dalam saweran ini memiliki makna filosofis dan doa mendalam bagi kehidupan rumah tangga baru, di antaranya:

Uang Koin: Melambangkan doa agar pasangan pengantin diberikan kelancaran rezeki dan kesejahteraan materi.

Beras: Menjadi simbol kemakmuran, kecukupan pangan, dan ketahanan pangan dalam keluarga.

Kunir atau Kunyit: Sebagai simbol kejayaan, kemuliaan, serta harapan agar nama baik keluarga selalu terjaga.

Permen: Melambangkan keharmonisan agar kehidupan rumah tangga senantiasa berjalan manis dan penuh kebahagiaan.

Ketua Panitia Pernikahan sekaligus salah satu tokoh masyarakat Sunda dari Desa Batuan, Kelurahan Sidomulyo, Dedi Damhudi, menyampaikan bahwa pelaksanaan adat ini merupakan bentuk tanggung jawab moral generasi tua untuk mengenalkan akar budaya kepada generasi muda di perantauan.

“Kami yang merantau dan menetap di Kabupaten Seluma ini memegang prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Namun, merawat tradisi leluhur seperti saweran ini adalah cara kami menjaga identitas sekaligus mengenalkan nilai-nilai luhur Sunda kepada anak-cucu yang lahir di tanah Bengkulu agar mereka tidak kehilangan obor sejarahnya,” ujar Dedi Damhudi di sela-sela acara.

Suasana haru bercampur ceria selalu mewarnai jalannya tradisi ini. Gelak tawa para warga dan anak-anak yang berebut koin saweran mempererat tali silaturahmi antargenerasi dan antarsuku di Kabupaten Seluma.

Kehadiran prosesi adat Sunda ini tidak hanya dinikmati oleh keluarga besar mempelai, tetapi juga disaksikan dengan antusias oleh warga sekitar dari berbagai latar belakang suku Di tengah keberagaman Kabupaten Seluma, pelaksanaan tradisi ini menjadi bukti nyata kekayaan budaya Nusantara yang memperkuat toleransi, kerukunan, serta keharmonisan hidup berdampingan di tengah masyarakat.

Pewarta : Redaksi/Renaldi

Editor : Do

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

spot_img
spot_img

Recent Comments