pensiljurnalis.my.id, Seluma – Seperti yang sebelumnya, disampaikan awak media ini masih berupaya meminta jawaban dan klarifikasi dari pihak pengawas Bendung Air Seluma, apa yang menjadi penyebab sehingga sampah disekitar Bendungan induk Air Seluma itu terkesan ada pembiaran dan tidak ada penanganan.
Hari ini Senin (19/8/2024) awak media ini berhasil menghubungi Alfian Junaidi, Kepala pengamat Bendung Wilayah Seluma dibawa naungan PUTR Provinsi Bengkulu. Namun sayangnya, dari penjelasan Alfian Junaidi, kalau pinggiran irigasi induk Bendung Seluma yang terkesan terbengkalai lantaran sampah berserakan itu dibawa naungan langsung Balai Wilayah Sungai Sumatera VII (BWSS. 7).
“ini bukan soal lari dari tanggungjawab, tetapi itu diluar wewenang kami. Sebab pinggir Bendung Seluma yang diberitakan berada dibawah naungan BWSS 7, sehingga kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tandasnya.

Lebih lanjut, Alfian Junaidi memaparkan, Bendung/Irigasi yang dibawa naungan BWSS. 7 dalam artian irigasi yang diatas 3000 hektar seperti irigasi air Seluma terbagi dua pengelolaan/pengurusan, di wilayah bendung khususnya irigasi Seluma, dari jembatan Lubuk Kebur, Kecamatan Seluma, sampai wilayah Bendung Induk Irigasi di kelola langsung oleh BWSS 7 dan tugaskan 3 orang pelaksana bendung dari pengawas bendung, pekerja dan penjaga pintu bendung.
Sedangkan dari pintu air Bs 1 yang biasa di sebut pintu air lubuk kebur ke hilir dan seluruh saluran yang ada itu di bawah naungan PUTR provinsi yang dikelola langsung dalam hal ini oleh Bidang Sumber Daya Air PUTR provinsi yang mana pekerjanya meliputi PENGAMAT petugas pintu air dan pekerja saluran.
“jadi dalam hal ini pengelolaan bendung dan sekitarnya itu tanggung jawab penuh pengawas dan petugas bendung dibawa naungan BWSS 7.” terang Alfian Junaidi.
Sementara itu, setelah mendengar penjelasan kepala pengamat/pengawasan Alfian Junaidi, awak media ini masih terus berupaya meminta jawaban dan klarifikasi dari pihak petugas BWSS 7, apa yang menjadi penyebab sehingga sampah disekitar Bendungan induk Air Seluma itu terkesan ada pembiaran dan tidak ada penanganan.
Pewarta : Sinta
Editor  : pensiljurnalis





