pensiljurnalis.my.id, Agam – Keterbatasan ekonomi dan rendahnya tingkat pendidikan formal bukanlah tembok penghalang bagi seseorang untuk melahirkan lompatan inovasi besar yang berdampak luas bagi masyarakat.
Realitas pembuktian ini tercermin nyata dari kisah hidup Masril Koto, seorang petani bersahaja asal Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Sebelum namanya dikenal luas di panggung nasional, Masril Koto adalah seorang anak dari keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ayahnya hanya seorang kuli bangunan berpenghasilan tak menentu, sementara ibunya adalah petani kecil.
Himpitan ekonomi yang begitu menjerat memaksa Masril harus menelan pil pahit putus sekolah saat baru duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD), hanya karena orang tuanya tidak mampu membelikan sepatu pramuka yang diwajibkan oleh sekolah.
Demi menyambung hidup dan membantu keluarga, Masril kecil terpaksa melakoni berbagai pekerjaan kasar. Mulai dari menjadi pemulung, buruh pasar, hingga akhirnya tumbuh dewasa sebagai seorang petani kecil yang menanam ubi jalar dan membudidayakan lele seadanya.
Di sela-sela bertani, ia menimba ilmu secara otodidak melalui Sekolah Lapangan (SL) Petani yang lokasinya berbatasan erat dengan wilayah Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.
Sebagai petani miskin, Masril merasakan betul pahitnya diskriminasi sistem keuangan formal. Setiap kali dirinya dan sesama petani di kampung halaman membutuhkan modal usaha untuk membeli bibit atau pupuk, pintu bank konvensional selalu tertutup rapat.
Stigma bahwa penghasilan petani tidak pasti membuat permohonan kredit mereka berkali-kali ditolak lantaran alasan klasik: tidak memiliki agunan atau jaminan formal. Kondisi ini memaksa para petani terjerat dalam perangkap rentenir.
Alih-alih merdeka, hasil panen mereka justru habis hanya untuk mencicil tumpukan utang dan bunga yang mencekik.
“Masalah petani kita sebenarnya bukan karena mereka malas bekerja. Mereka hanya tidak pernah diberi kesempatan,” ungkap Masril merefleksikan kegelisahannya kala itu.
Bergerak dari rasa muak terhadap jeratan rentenir dan penolakan bank, Masril memulai langkah konkret pada tahun 2002 dengan mendatangi rumah-rumah petani satu per satu di wilayah Baso, Agam.
Tanpa meja bank konvensional maupun gedung kantor yang megah, ia mulai mengumpulkan iuran sukarela berupa uang recehan dari para petani. Prinsipnya sederhana: satu rumah, satu petani, satu iuran.
Meski awalnya diragukan dan dicemooh oleh banyak pihak, gerakan swadaya berbasis kepercayaan ini terus berjalan merangkak. Pengelolaan keuangan yang mulanya hanya mengandalkan catatan kas sederhana kemudian berkembang lebih profesional setelah Masril dan rekan-rekannya mendapatkan pembekalan sistem akuntansi dari Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA) Padang.
Pada tahun 2006, lembaga kas petani ini resmi bertransformasi menjadi badan hukum bernama LKMA Prima Tani di Agam. Setelah fondasi di tanah kelahirannya kokoh, Masril memperluas pergerakannya ke berbagai wilayah lain di Sumatera Barat, termasuk membangun basis operasional dan jaringan pengembangan Bank Tani yang sangat masif di kawasan Batusangkar.
Inovasi lokal ini terbukti ampuh memotong ketergantungan modal dari para lintah darat. Usaha swadaya tersebut berkembang pesat hingga membentuk jaringan di ratusan cabang dengan total aset kelolaan mencapai puluhan miliar rupiah.
Jutaan keluarga petani berhasil dientaskan dari jerat utang menahun. Keberhasilan LKMA Prima Tani ini pada akhirnya menarik perhatian serius dari pemerintah pusat.
Model pengadaan modal mikro yang dirintis oleh Masril Koto kemudian secara resmi diadopsi oleh Kementerian Pertanian sebagai fondasi dasar bagi program nasional bertajuk Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) untuk menyalurkan modal bagi gabungan kelompok tani (Gapoktan) di seluruh penjuru tanah air.
Dari kisah hidup Masril Koto, kita disuguhkan sebuah cermin realitas yang jujur sekaligus menohok mengenai hukum sosial permodalan.
Perjuangannya memberikan satu pelajaran berharga bagi siapapun yang merintis langkah dari bawah: pihak manapun sering kali baru akan datang mendekat ketika kita sudah sukses membuktikan diri.
Saat Masril berjalan kaki dari rumah ke rumah mengumpulkan uang receh, ia harus berjuang sendirian di tengah penolakan dan skeptisisme lembaga formal.
Namun, cerita berbalik drastis ketika gerakan swadaya tersebut berhasil mengelola aset miliaran rupiah. Pihak perbankan, instansi pemerintah, hingga panggung nasional pun berbondong-bondong hadir merapat untuk memberikan penghargaan hingga posisi penting di kursi korporasi negara.
Kehadiran mereka di akhir cerita memberikan tamparan keras bagi sistem pendanaan konvensional yang kerap absen di saat masyarakat paling membutuhkan.
Realitas ini menegaskan sebuah mentalitas penting bagi penggerak akar rumput, bahwa kemandirian sejati harus diciptakan melalui pembuktian nyata di lapangan, bukan dengan menggantungkan harapan pada pihak lain yang hanya mau menumpang di kapal yang sudah jadi.
Pewarta       : Redaksi/Do
Editor         : Do





