Sementara itu, Mihas, salah satu pemilik rumah yang disusulkan dan layak mendapat bantuan tersebut mengatakan, kalau tempat yang dihuninya bersama sumi dan tiga orang anaknya tak layak disebut rumah dan lebih layak disebut gubuk. Sebab selain kecil, dinding dan atap seng juga sudah penuh dengan tambalan.
Menurutnya, Ia bersama suaminya sudah berusaha dan berupaya ingin membuatkan tempat tinggal yang layak untuk anak-anaknya namun takdir berkata lain, jangankan untuk membangun rumah yang layak untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari pun sulit.
“saya minta tolong kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Seluma, sekiranya memperhatikan kami warga pedalaman, jangan hanya warga dipinggiran jalan dan kota kabupaten saja, kami juga warga Indonesia,” singkatnya.
Hingga saat ini problem yang dihadapi salah satu desa di Kabupaten Seluma ini hanya sekelumit contoh kecil dari potret pelayanan publik di daerah terutama di desa yang belum mendapat perhatian serius.
Pemerintah masih belum memberikan jaminan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ke depan perlu adanya perbaikan pengawasan dan aksi yang nyata bagi perubahan pelayanan publik kita.
Pewarta : Renaldi/Nanang
Editor : pensiljurnalis


